Monday, May 21, 2007

Pejabat di Puncak, Banjir di Jakarta

http://www.tempointeraktif.com/
Edisi. 13/XXXIIIIII/21 - 27 Mei 2007

Laporan Utama
Pejabat di Puncak, Banjir di JakartaDI BUKIT CITAMIANG, Puncak, mereka membangun pesanggrahan berstandar bintang lima: ada mantan pejabat, pengusaha dan—terbanyak—para jenderal. Investigasi Tempo menemukan, rumah-rumah rehat itu ditegakkan dengan menabrak aturan. Mereka abai bahwa kawasan ini memiliki peran amat istimewa untuk mencegah banjir di Jakarta. Jika dibiarkan, rusaknya Citamiang akan membuat banjir di Ibu Kota makin besar. Persoalan ini menjadi sangat penting di tengah hiruk-pikuk pemilihan Gubernur DKI Jakarta Agustus nanti. Di pundak merekalah terletak beban untuk mengurangi tekanan banjir di Jakarta. Berikut ini hasil investigasi Tempo di bukit itu—di sana bungalow liar tumbuh menyebar bak bunga liar.
Jenderal Wiranto bukan penduduk Citamiang, sebuah dusun di Tugu Utara, tapi di kampung paling dingin yang terletak di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, itu namanya populer gara-gara vila.
Vila Ragananda—seperti terpahat di dinding batu dekat gerbang masuk—sesungguhnya jauh dari permukiman. Bungalow itu hampir di puncak Citamiang, tujuh kilometer dari jalan raya Puncak ke arah kiri. Jalan masuk ke sana sudah dijaga sejak di kaki bukit. Tapi, nama mantan Panglima TNI ini sampai juga kepada warga desa. ”Itu mah vilanya Wiranto,” ujar Ujang, warga Bukit Cisuren, dua kilometer dari Citamiang.
Terletak di ketinggian 1.123 meter, ”vila Wiranto” alias Ragananda hanya salah satu rumah tetirah liar berkelas butik di Citamiang. ”Di sana juga ada vilanya Djaja Suparman,” Ujang memamerkan pengetahuannya tentang para pemilik bungalow yang dibangun di atas lahan 25 hektare itu.
”Ada Oetojo Oesman.”
”Ada Mantiri.”
”Ada Suryadi.”
”Ada King Yuwono.”
”Nah..., dulu di bawah Vila Wiranto ada Vila Sutiyoso.”
Ini belum seberapa. Hasil investigasi majalah ini mencatat, di seantero Tugu Utara ada 400-an vila liar. Mestinya, buldoser sudah mulai menggaruk ratusan bungalow itu pekan ini. Menurut Wakil Bupati Bogor, Albert Pribadi, ini titah Wakil Presiden Jusuf Kalla kepadanya dalam rapat koordinasi pascabanjir besar di Jakarta, Februari lalu.
Hingga tulisan ini diturunkan, belum satu pun dinding yang dirobohkan. Padahal, vila-vila itu jelas menabrak sejumlah aturan penting: berdiri di atas tanah negara dan didirikan tanpa surat izin mendirikan bangunan (IMB). Ini yang paling membikin pening: tempat peristirahatan itu menutupi tanah di sebuah wilayah di Puncak yang perannya amat istimewa terhadap Jakarta, Bogor, Depok, dan sekitarnya.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Cipta Karya, Kabupaten Bogor, Anwar Anggana, mengatakan, tanah di sana harus dibiarkan terbuka karena berfungsi sebagai spons penyerap air hujan. Tugas area ini meminum air hujan sebanyak-banyaknya ke dalam tanah, hingga hanya sedikit yang mengalir ke Ciliwung. Maka, mestinya bangunan apa pun haram ada di sana.
Gara-gara tanah makin kedap air oleh vila dan aksesorinya itulah, Februari lalu dari Citamiang, Cisuren, Baru Jeruk, Baru Kiara, dan Pasir Ipis—semua ada di Tugu Utara—air hujan deras membanjiri Jakarta dan sekitarnya. Bersama-sama dengan air hujan dari sepanjang Daerah Aliran Sungai Ciliwung, jumlah air yang menerjang Jakarta waktu itu sekitar 32 juta meter kubik.
Banjir itu mengakibatkan kerugian hampir Rp 10 triliun dan memaksa setengah juta warga mengungsi. Wilayah Jakarta yang tergenang pun jauh lebih luas ketimbang banjir-banjir sebelumnya.
Kisah Citamiang sebetulnya tidak baru. Vila Sutiyoso di bukit ini dilantak buldoser ketika banjir melanda Jakarta pada 2002. Pada saat itu, tuduhan juga mampir kepada Wiranto dan Djaja, yang sudah disebut-sebut memiliki vila di kawasan ini. Wiranto waktu itu membantah. ”Kalau memang saya punya vila liar, silakan bongkar saja,” ujarnya kepada Tempo. Sejak itu Citamiang mati suri.
Eh, pada 2005, vila Ragananda dibangun di sana. Citamiang kembali siuman. ”Jalan dan sejumlah vila mulai dibangun lagi di atas,” kata Ujang.
Bukan cuma Citamiang yang terasa lebih hidup karena ada Ragananda. Sepanjang April hingga awal Mei, Tempo berkali-kali menyambangi Tugu Utara. Pemandangannya serupa: deru mesin-mesin pengaduk semen, pemecah batu, mesin serut kayu, seperti berlomba dengan waktu. Vila-vila pun bertumbuhan di tempat-tempat terlarang itu.
Citamiang menjadi referensi vila liar di seantero kawasan Puncak. Ini bukit, bukan sembarang bukit. ”Dalam catatan saya, kini ada 12 vila di Citamiang,” kata Jajat Sudrajat, Kepala Desa Tugu Utara. Vila itu milik orang-orang top, sebagian besar dari kalangan militer. Catatan ini klop dengan dokumen vila liar di Citamiang yang diperoleh Tempo.
Selain menyebut Wiranto, dokumen pada Dinas Cipta Karya Kabupaten Bogor itu mencantumkan nama sejumlah petinggi negeri. Dari petinggi militer ada nama bekas Wakasad Letjen TNI (Purn) Suryadi, Pangkostrad Letjen TNI (Purn.) Djaja Suparman, bekas Pangdam Udayana Letjen TNI (Purn.) H.B.L. Mantiri, dan beberapa yang lainnya. Di antara birokrat, ada mantan Menteri Kehakiman Oetojo Usman. Dari kelompok pengusaha ada King Yuwono, pemilik King Plaza.
Perimeter kompleks ini di kaki bukit dijaga ketat orang sipil yang berlagak bak militer. ”Jangankan wartawan, anggota DPRD juga tidak bisa masuk,” kata Anwar Anggana. Tempo pun harus menyaru jadi apa pun agar bisa masuk ke kompleks itu: pernah menjadi mahasiswa, pura-pura berolahraga, pura-pura pacaran, atau masuk bersama orang kampung yang bekerja di sana.
Fotografer yang paling kesulitan jika harus menyamar. Foto yang baik sukar diperoleh dengan cara ini, terlebih lagi bungalow-bungalow itu berpagar tinggi. Akhirnya, Tempo memutuskan menerbangkan pemotret dengan trike (gantole bermotor) ke bukit itu.
Ternyata, di udara pun Citamiang terbentengi. Ada kabel jaringan tegangan tinggi yang berada di sekitar lokasi pemotretan. Dan ini bulan Mei. Hari-hari pada bulan ini hujan di kawasan Puncak selalu datang menjelang tengah hari. Jika tidak hujan, wilayah itu pasti mendung. Makin siang angin pun lebih kencang menuruni punggung bukit dengan arah ke bawah. Hanya pada jam 8 pagi cuaca memihak Tempo.
Foto harus didapat. Berbekal posisi masing-masing bungalow di Citamiang dari Google Earth yang dimasukkan ke dalam penentu lokasi berbasis satelit (GPS), pagi pada awal Mei itu Tempo terbang dengan trike dari landasan udara Lido Resort, Sukabumi. Penerbangan ini memakan waktu sejam. Amboi, Citamiang memang ciamik.
Kompleks Citamiang berpagar hutan pinus di sisi kiri, kanan, dan belakang. Di baliknya menghampar perkebunan teh Ciliwung. Bungalow itu resik-resik, dengan halaman sangat luas. Pemandangan ke lembah sangat lepas: ke Gunung Gede-Pangrango hingga Salak.
Dari udara jalan masuk ke kompleks itu terlihat kurang bermutu, tapi di balik portal, hotmix-nya licin. Di dalam kompleks, jalan utama bercabang satu, ke arah kiri, ke vila Djaja.
Ragananda berada di jalan utama, di sisi kanan, sendirian. Di kiri, berbaris tempat rehat Oetojo Oesman, Mantiri, dan King Yuwono. Raganandalah yang paling menonjol.
Bangunan tiga lantai seluas sekitar 400 meter persegi itu paling besar, paling tinggi di bukit ini. Dan, seperti dibanggakan penjaganya, Erman, kepada Tempo: ”Vila ini mempunyai pemandangan terbaik.”
Sejatinya, Citamiang tidak semewah ini jika bukan karena King Yuwono. Menurut Yudi Wiguna, anggota Badan Perwakilan Desa Tugu Utara, bukit milik negara ini awalnya kebun jomblangan (cadangan) pengelola kebun teh Ciliwung, PT Sumber Sari Bumi Pakuan. Karena tak terurus, pada 1975 ratusan eks karyawan Ciliwung dan warga Tugu Utara mulai menggarap bukit itu. Sejak 1985, satu per satu lahan itu dioper garap—istilah warga setempat untuk menjual hak garap lahan—kepada masyarakat di luar Tugu Utara.
Pada 1988, King Yuwono dan mantan Gubernur DKI Jakarta, Tjokropranolo, membeli hak garap bukit itu dari warga. Mereka urunan membeli seluruh bukit seluas 25 hektare seharga Rp 500 juta, berarti Rp 2.000 per meter persegi. ”Waktu itu pembebasan lahan dibantu warga setempat, Abot,” kata King kepada Tempo (lihat One Stop Shopping ala Biong).
Keterlibatan Gubernur DKI Jakarta periode 1977-1982 ini diungkapkan King Yuwono dan Yoyo Mahmud Gunawihana, 70 tahun, mantan Ketua Serikat Pekerja Perkebunan Ciliwung yang kini menjadi Kepala Dusun II Tugu Utara. ”Ayah saya memang pernah mendengar soal itu,” kata Tommy Tjokro mengutip Tjokro Suprijadi, putra kedua Tjokropranolo, ketika dimintai konfirmasi tentang soal itu.
Cita-cita King dan Tjokro datang ke bukit ini setinggi bintang. Mereka ingin di sana berdiri tempat tetirah kelas bintang lima yang ramah lingkungan. Bukit itu pun ditata ini dengan ketat. Aturan seperti rasio luas bangunan di banding luas tanah tak boleh melenceng sedikit pun dari angka tiga persen. ”Inginnya sih jadi vila percontohan untuk wilayah di sekitarnya,” ujarnya.
Ternyata ini tak mudah. Belum semua bungalow berdiri, bukit itu dihujat menyalahi peruntukan. Menurut Keputusan Presiden Nomor 114 Tahun 1999 tentang Rencana Umum Tata Ruang Puncak, bukit ini memang harus steril dari bangunan. Tapi, kata King, ia tak bermaksud melanggar ini. ”Pemerintahlah yang justru tidak pernah memberikan aturan yang jelas, mana yang boleh, mana yang tidak,” ujarnya. Jadi, ”Izinnya sama Tuhan.”
Halangan juga datang dari dalam bukit. Ragananda, misalnya, dibangun kelewat lebar dibanding luas kavling tanahnya. Toh ia tak bisa membatalkan pembangunan Ragananda. ”Jadi, kavling saya harus dikurangi untuk menyeimbangkan perbandingan luas bangunan Ragananda dan luas lahannya,” kata pemilik dua vila di bukit itu.
King mengaku, ia menata bukit ini dengan ketat karena lahan itu tidak hanya untuk dirinya. Ia membeli bukit itu karena pesanan para petinggi militer. Maka, setelah bukit itu siap dibangun, ia pun menghadiahkan kavling-kavling tersebut kepada para pemesannya. Benarkah?
Wiranto mengatakan, ia membeli tanah itu langsung dari PT Sumber Sari Bumi Pakuan, pengelola kebun teh Ciliwung, pada 9 Maret 1999. ”Tadinya akan digunakan untuk kebun bunga,” ujar Wiranto yang menjawab pertanyaan Tempo via faksimile.
Lantaran lokasinya sulit, ia mengurungkan niat itu. Sejak Mei 2006, tanah tersebut bukan miliknya lagi. ”Sudah saya pindahkan haknya pada pihak lain lewat akta perjanjian,” ujarnya. Vila itu pun, dengan demikian, bukan miliknya lagi. Lantas, milik siapa?
Cerita datang dari Abot—nama sesungguhnya Elit Wijaya. Abot mengaku pernah bertemu dengan Wiranto pada 2004. ”Saya bertemu dua kali,” ujarnya, ”Tapi seingat saya pembangunan vila itu dibiayai oleh Mulyono,” katanya. Ia tak tahu siapa Mulyono.
Wiranto pun masih ke Ragananda. Saat Tempo mengunjungi vila Ragananda pada 7 Mei lalu, Rugaiya Usman, istri Wiranto, sedang menginap di sana. Tempo melihat mobil Toyota Alphard B-512-UN warna perak terparkir di halaman vila. ”Itu mobil ibu Uga,” kata Ecih perempuan baya penjaga vila Ragananda.
Ecih mengatakan, selain Rugaiya, Wiranto juga kerap menginap di Ragananda. ”Bulan puasa lalu bapak sering datang ke sini,” katanya. Apa kata pemilik vila lainnya?
Mantan Menteri Kehakiman Oetojo Oesman mengaku membeli hak garap tanah di Citamiang dari Yurianti Wijaya, pemilik PT Sumber Sari Bumi Pakuan. Ia membeli tanah seluas 5.000 meter persegi itu sekitar tahun 2000. ”Harga persisnya lupa, tapi kurang sedikit dari Rp 100 juta,” ujarnya.
Di atas lahan itu, menurut Oetojo, ia mendirikan bangunannya dua tingkat dengan luas total 234 meter persegi. ”IMB-nya masih dalam proses,” ujarnya.
Mantiri juga mengaku tanah itu bukan pemberian. ”Saya membeli waktu saya masih dinas aktif, sekitar 1990-an,” ujar bekas Pangdam Udayana. Cuma Djaja yang menjawab lain. Ketika ditemui Tempo, mantan Pangkostrad ini menjawab singkat: ”Tidak tahu.”
Bekas Wakil KSAD, Suryadi, mengaku menerima vila itu dari tangan King Yuwono. Tapi, sudah tiga tahun dia tidak pernah ke sana. ”Sejak diributkan saya malas ke sana,” katanya. Vila berkamar dua itu pun sudah dimakan rayap, namun Suryadi mengaku enggan memperbaikinya. Yang dilakukannya hanya membayar listrik dan menggaji penjaganya setiap bulan.

Tugu Utara bukan satu-satunya desa yang menjadi benteng banjir terakhir Jakarta di kawasan Puncak yang radang oleh vila liar. Spons air itu terbentang di sepanjang perbatasan dengan perkebunan teh Ciliwung dan Gunung Mas, mencakup Desa Tugu Utara, Tugu Selatan, hingga Cibeureum. Tapi, dari 10 desa di Kecamatan Cisarua, kawasan Tugu Utaralah yang paling subur ditumbuhi vila liar. Pada 2003, di wilayah ini baru ada 100 vila liar, kini jumlahnya di atas 400. Peringkat kedua di pegang Tugu Selatan, dengan 200-an vila.
Di Tugu Utara, kebanyakan vila berdiri di lahan negara eks perkebunan teh Ciliwung yang hilang saat Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan itu diperbarui pada tahun 2000. Jumlahnya sekitar 200-an hektare. ”Tanah ini yang diperjualbelikan dan jadi vila,” ujar Ali Maskur, Administratur Perkebunan Ciliwung. Kini, ”Hampir semua lahan eks perkebunan garapan rakyat ini telah dimiliki orang Jakarta,” katanya.
Lain desa, beda kebun, sama ceritanya. Di Tugu Selatan, yang terpisah oleh jalan raya Puncak dari perkebunan Ciliwung, vila liar juga berada di lahan bekas perkebunan teh Gunung Mas. ”Kami kehilangan 600 hektare dalam 10 tahun terakhir,” kata Rachmat Supriadi, Administratur Perkebunan Gunung Mas. Ini sepertiga dari luas lahan perkebunan itu yang mencapai 1.700 hektare. Sama seperti di Ciliwung, di lahan eks Gunung Mas itu juga jadi vila orang Jakarta.
Semua itu gara-gara biong—ini istilah buat makelar yang memperantarai petani penggarap dengan kalangan berduit yang ingin memiliki vila. Mereka bahkan menyediakan layanan one stop shopping mulai dari jual-beli sampai menyediakan penjaga. Namun, Tempo menemukan, biong bisa sugih karena aturan main tata ruang di kawasan ini amburadul.
Pangkal sengkarut itu adalah bisnis jual-beli tanah garapan milik negara yang menggiurkan. Ini pula yang membuat Haji Teteng, biong tersohor di Gunung Mas, menekuni bisnis ini. ”Bisnis ini sifatnya spekulatif saja,” ujarnya. Dengan cara ini mereka bahkan bisa membeli tanah milik di tempat lain. Soalnya, tanah negara ini dihargai tinggi. ”Bisa Rp 150 ribu per meter,” ujar Cecep, warga Tugu Utara.
Menjual tanah negara ini tidak sulit, cukup berbekal surat garapan atau oper garapan dari kepala desa. ”Di sini masyarakat dan aparat desa bisa ’bermain’,” ujar Sambas Basuni, ahli kawasan konservasi Puncak di Institut Pertanian Bogor
Haji Teteng membenarkan sinyalemen Sambas. Oper lahan garapan—arti sejatinya jual-beli—melibatkan RT, RW, kepala desa, pihak perkebunan, dan kadang-kadang notaris. Tak jelas berapa para kepala desa menerima uang pelicin agar mau mengesahkan oper garapan. Namun, jikapun penggarap harus mengeluarkan uang pelicin, keuntungan masih membuncah. Sebagian karena tanah itu didapat dengan merampasnya dari perkebunan.
Inilah itung-itungannya. Di lahan eks Gunung Mas, tanah garapan dijual Rp 2.500 sampai Rp 100 ribu per meter persegi, tergantung panoramanya. Jika tanah itu diperoleh dengan menjarah kebun, modalnya Rp 75 ribu per 400 meter persegi. Jika dijual dengan harga paling murah pun (Rp 2.500) dan sudah dipotong di sana-sini, masih ada untung setengah juta rupiah. Mengapa pembeli berani mengambil tanah itu?
Menurut Teteng, para pembeli lahan itu sejak awal juga sadar sedang berspekulasi. ”Siapa tahu nantinya surat dan IMB untuk menjadi vila bisa diurus,” katanya. Atau, siapa tahu perizinan ini bisa dicurangi. Kalau gagal, mereka sudah siap kehilangan tanah dan duit yang sudah telanjur diinvestasikan di sana.
Sebagian dari mereka toh berhasil mengakali birokrasi. Salah satu modusnya adalah dengan memasukkan izin pembangunan vila di lokasi permukiman. Setelah surat kelar, lokasi digeser ke tempat yang diinginkan (lihat pula Noktah Bernama Vila Kinta).
Jika lahan bakal vila memang berada di lokasi permukiman, izin IMB lebih gampang diakali. Dinas Cipta Karya Bogor memberikan kemudahan mendapatkan IMB untuk bangunan yang berdiri sebelum 1996. Pemilik vila bisa kongkalikong dengan lurah, untuk membuat surat keterangan palsu tentang usia bangunan.
Ada pula pemilik yang nekat: memalsukan IMB vila, bekerja sama dengan oknum pegawai Dinas Cipta Karya. ”Tahun 2002 ada empat pegawai Cipta Karya yang dipecat karena ketahuan memalsu surat ini,” ujar sumber Tempo di Cipta Karya.
Jika izin tak kunjung didapat? Teteng dengan enteng mengatakan, vila tetap bisa didirikan. ”Paling ada uang rokok untuk petugas yang datang ke lokasi,” ujarnya. Nah!

Jakarta 2013. Profesor The Houw Liong, ahli cuaca pada Departemen Fisika ITB, menengarai pada tahun itu Jakarta bisa direndam bah hebat. Saat itu panas matahari berada pada puncaknya, mengikuti siklus 11 tahunan. Jadi, matahari akan mengantarkan lebih banyak air laut ke atas kawasan Puncak.
Hujan di kawasan Puncak pun lebih lebat dari biasanya. Perlu tanah yang lebih luas agar air itu tak banyak tumpah ke Ciliwung. Jika tidak, ujar The pada awal tahun, ”Bisa terjadi banjir besar seperti pada 2002, bahkan bisa lebih hebat.” Apakah ”orang-orang Citamiang” masih perlu disebut pada 2013?

Sunday, May 20, 2007

Bung Karno Vs Tiga Besar (3)

Bung Karno Vs Tiga Besar (3)

Budiaro Shambazy
Saat membacakan Proklamasi, usia Bung Karno (BK) 44 tahun, lebih tua setahun dari Mohamad Hatta. Orang yang dituakan BK tinggal sedikit, misalnya Haji Agus Salim (61), Ki Hajar Dewantara (56), atau Tan Malaka (48).Panglima Besar Jenderal Sudirman 15 tahun lebih muda, Wakil Panglima Besar Kolonel AH Nasution 17 tahun di bawahnya. Ketika menulis Indonesia Menggugat, BK baru 27 tahun—Pak Nas masih remaja.Perbedaan usia BK yang berkuasa selama 20 tahun dengan pemimpin parpol/TNI makin tahun makin kentara. Dalam bahasa Belanda ia diledek sebagai ouwe heer alias Pak Tua.BK kesepian waktu Bung Hatta mundur dari jabatan wapres tahun 1956. Ia sibuk dengan “Konsepsi”, habis-habisan menjaga demokrasi parlementer, dirundung pemberontakan, mau dibunuh, sampai memaklumatkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.Ia tokoh sentral yang belum tertandingi siapa pun. BK praktis jadi pemerintah yang tak berhenti gelisah barang sedetik pun.Ia makin jarang berkunjung ke daerah, tetapi sering ke luar negeri untuk kunjungan kerja maupun pribadi. Ia mengenakan seragam lengkap dengan deretan tanda jasa di dada untuk mengingatkan TNI ia-lah sang pangti.Dalam waktu 20 tahun ia menerima 26 gelar doktor kehormatan. Buku-buku yang dilahapnya berserakan di kamar tidur, toilet, ruang tamu, atau di meja makan.BK memiliki semuanya, kecuali uang. Anda pasti tak percaya sebagian duit membangun rumah di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, berasal dari utang.Semua orang datang tak henti meminta bertemu dia. Jam tidur dia hanya 3-4 jam sehari dan itu pun sering terganggu karena ia “turba” (turun ke bawah) melihat kehidupan rakyat tanpa pengawal dengan VW Kodok warna hijau kesayangannya.Mungkin idealnya BK mengakhiri karier politiknya saat memasuki usia 60 tahun. Mungkin Pak Amien Rais benar saat menyarankan usia capres pada pilpres tahun 2009 maksimal 60 tahun.Tetapi, siapa pula yang bisa mengatur napas politik BK? Dalam periode 1960-1965 itulah BK justru menjalani tahun-tahun yang paling menentukan masa depan politiknya.Jumlah penduduk Indonesia sekitar 100 juta. Kehidupan ekonomi memprihatinkan, antara lain karena pemberontakan PRRI/Permesta, politik konfrontasi terhadap Malaysia, dan perang merebut Irian Barat dari tangan Belanda.Rencana Pembangunan Nasional tahap ketiga yang bertujuan Indonesia tinggal landas masuk tahap industrialisasi tak berjalan meski BK memimpin Kabinet Kerja I sampai IV (1959-1964). Di saat yang sama BK menjalankan politik luar negeri yang ambisius dengan menyelenggarakan Asian Games (1962), Ganefo (1963), dan membentuk Conefo (1965).Lebih dari itu, BK direcoki lawan-lawan politiknya di luar maupun dalam negeri. Ia masih jadi sasaran pembunuhan, sering digosipkan mau dikudeta lalu diasingkan ke China, dirumorkan sakit keras, bahkan mau kabur ke luar negeri.Pada saat yang sama kepemimpinan BK makin tak kenal ampun, termasuk memenjarakan rekan-rekan seperjuangan sendiri. Lima tahun sejak 1960 ia makin sering mengangkat sekaligus memecat orang, termasuk mereka yang tergabung dalam “Kabinet 100 Menteri”.BK disanjung-sanjung dengan gelar-gelar kosong, seperti “Penyambung Lidah Rakyat”, “Presiden Seumur Hidup”, atau “Pemimpin Besar Revolusi”. Ia memaksa orang menari “lenso”, menangkap Koes Bersaudara yang memainkan musik ngak-ngik-ngok ala The Beatles, atau dipuja-puji lewat lagu Oentoek Paduka Jang Mulia yang dinyanyikan Lilis Suryani.Ia terperangkap ke dalam slogan-slogan karangan dia sendiri, seperti “Manipol-Usdek”, “Tahun Vivere Peri Koloso”, atau “Panca Azimat Revolusi”. Ia terlalu sering mengelu-elukan Menpangad Letjen Achmad Yani atau Ketua Umum PKI DN Aidit jadi “putra mahkota” pengganti resmi.Kekuatan Tiga Besar dalam negeri yang dihadapi BK terangkum lewat Nasakom yang menurut dia merupakan “jiwaku”. BK menegaskan yang menghalangi Nasakom akan disingkirkan karena masuk kategori “kepala batu”.BK menjaga jarak dengan PNI untuk unjuk diri sebagai “bapak” penaung semua aliran. Makin tahun ia makin memanjakan PKI dan membiarkan mereka berkali-kali mengganggu kalangan beragama, misalnya lewat isu land reform atau kampanye anti-Tuhan.Meski sering bertikai secara terbuka, BK tak beda prinsip dengan kelompok nasionalis lainnya, TNI. Mereka sejalan dalam menghadapi pemberontakan PRRI/Permesta, perang pembebasan Irian Barat, dan politik konfrontasi.Namun, pertentangan BK-Pak Nas sejak 1950-an jadi faktor dominan yang ikut memengaruhi pecahnya G30S tahun 1965. Pangti ouwe heer yang berumur 64 tahun berhadapan dengan sesepuh TNI AD yang baru berusia 46 tahun pas tahun 1965.Kedua-duanya sama-sama berjuang dari bawah dan selama jadi pejabat publik menerapkan pola hidup sederhana. Pak Nas pembawa panji Orde Baru yang setengah hati, BK kalah dan terkurung sampai meninggal dunia.BK sering mengatakan, “Revolusi akan memakan anaknya sendiri”. Pada detik-detik terakhir ia bisa saja melancarkan serangan balik, tetapi untuk apa kalau cuma memecah belah bangsanya sendiri?Tahun 1965 itulah akhir dari “Drama Indonesia Jilid Pertama”. Mereka yang memujanya mungkin lebih banyak daripada yang membencinya, tetapi tak ada yang tak setuju bahwa BK jadi bintang utamanya.Bagaimana dengan “Drama Indonesia Jilid Kedua”? Tunggu tanggal mainnya.

Bung Karno Vs Tiga Besar (2)

Bung Karno Vs Tiga Besar (2)
Oleh Budiarto Shambazy
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/12/utama/3499392.htm===========================
Bung Karno percaya hubungan pribadi antarpemimpin berpengaruh padapergaulan internasional. Ia pelopor Konferensi Asia-Afrika 1955 danmerasa jadi duta Gerakan Nonblok menghadapi Presiden AS DwightEisenhower (1953-1961), Sekjen PKUS Nikita Khrushchev (1953-1964), danKetua PKC Mao Zedong (1945-1976).
Setahun setelah KAA, ia diundang Eisenhower ke AS, September 1956.Setelah itu bertemu Mao di Beijing serta Khrushchev di Moskwa.
Bung Karno (BK) marah ditelantarkan 10 menit sebelum diterimaEisenhower. Hubungan mereka buruk karena Eisenhower mendukungpemberontakan PRRI/Permesta dan memerintahkan CIA membunuh BK.
Hubungan pribadi BK dengan Mao atau Khrushchev hanyalah basa-basi. Maomalah sering mengundang Ketua Umum PKI DN Aidit ke Beijing, Khrushchevlebih tertarik menumpahkan senjata untuk TNI.
Setelah PRRI/Permesta, hubungan BK-Presiden John F Kennedy (1961-1963)amat akrab. Waktu di Washington DC tahun 1961, BK merasa cocok denganJFK—beda dengan Eisenhower yang dianggap contoh ideal “the ugly America”.
JFK menghadiahi BK sebuah heli Sikorsky. Mereka bergosip tentang sexbomb seperti Gina Lollobrigida walau JFK sempat tersinggung saat BKmenawari Jacqueline Kennedy berkunjung sendirian ke RI.
Tiga Besar enggan kehilangan RI karena nilai strategisnya sama denganIndochina. Asumsi JFK, kehadiran pangkalan komunis di Jawa-Sumateramelemahkan kekuatan pakta militer SEATO (Southeast Asia TreatyOrganization).
RI yang pro-Soviet atau China akan mengisolir Australia-Selandia Barudari pengawasan Barat. Soviet dan China mengincar RI lewat strategi“Lompat Katak”: lebih mudah mengomuniskan Daratan Asia Tenggara jikaRI ada di bawah pengaruh satelit mereka.
Siapa pun yang menguasai RI mengontrol Samudra India dan Pasifik. RIibarat kolam renang besar dengan air susu yang digemari tua-muda.
Hubungan China-Soviet terganggu setelah Khrushchev menyepakatipeaceful coexitence dengan AS. Mao tersinggung kepada BK yang mengusirwarga stateless China tahun 1959-1960.
Sebagian dari senjata Soviet yang komitmennya akan mencapai lebih darisemiliar dollar AS merupakan sejumlah rudal darat-ke-darat yangbernama Kuba. Peralatan militer dari Soviet itulah yang digunakan TNIuntuk menyerbu ke Semenanjung Malaysia saat puncak Konfrontasi tahun 1964.
China tak mau kalah. Mao berjanji mengalihkan teknologi senjata nuklirjika China diizinkan melakukan uji coba senjata nuklir di bawah lautdi wilayah perairan sekitar Irian Barat atau di sekitar Pulau Mentawai.
Giliran JFK yang tak mau ketinggalan langkah. Lewat program Atom forPeace, ia meminjamkan 2,3 kg uranium untuk pengembangan reaktor nuklirmilik ITB di Bandung. Pada tahun 1965 reaktor yang bertujuan damai itusudah operasional sampai 25 persen.
JFK bermaksud BK boleh mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuanperdamaian. Reaktor itu secara rutin diperiksa IAEA, tetapi BKditengarai mempunyai agenda tersembunyi ingin menjadikan RI goingnuclear alias menjadi negara bersenjata nuklir.
Sejak 1964, BK rajin menyuplai berbagai jenis senjata ke sejumlahnegara Afrika yang memerangi rezim-rezim antek bekas negara-negarapenjajah. Di daerah Kemayoran ada Jalan Patrice Lumumba, PM Kongo yangjuga pejuang antikolonialisme Belgia yang dikudeta rekannya sendiritahun 1960.
BK mengundang latihan serdadu yang datang dari Korea Utara, Vietcong(Vietnam Utara), maupun Laos yang beruntung mendapatkan keahliantempur dari TNI. Pilot-pilot dari Kamboja dan Burma berlatihmenerbangkan pesawat tempur buatan Soviet, MiG-17, di sini.
Tahun 1965 RI menyuplai berbagai jenis MiG dan kapal-kapal peranguntuk Pakistan yang ketika itu terlibat perang melawan India. BKmemilih Pakistan karena ia berencana merekrut negeri Islam itu untukbergabung ke poros Jakarta-Hanoi-Beijing-Pyongyang.
Nah, satu-satunya pemimpin Barat yang prihatin menyaksikan BK danselalu mengulurkan tangan adalah JFK. Ia beberapa kali menekan Inggrisuntuk mengalah dari BK, terutama dalam soal rencana Inggris mendirikanpangkalan militer di Singapura.
JFK berkali-kali “menginjak kaki” Belanda dalam perundingan mengenaiIrian Barat. Bekas penjajah ini sejak 1945 jadi “tukang nébéng” yangtak rela meninggalkan RI yang kaya raya.
Dua bekas jajahan Inggris, Malaysia dan Singapura, sejak dulu mauambil untung dari RI. Seperti kata pepatah, “Rumput tetangga lebihhijau daripada rumput sendiri”.
Setelah JFK tewas, Presiden Lyndon Johnson (1963-1969) melonggarkankomitmen. Ia mengurangi keterlibatan karena berbagai alasan, terutamasukarnya menghindari risiko RI jadi komunis.
Ilmuwan Guy Paker dan Henry Brands dan mantan Kepala Stasiun CIA diJakarta Hugh Tovar membantah AS mendalangi peristiwa G30S. Walausenang PKI ditumpas, mereka kaget Orde Baru membantai ratusan ribukorban tak bersalah.
Bulu kuduk media massa AS merinding melihat amok massa itu. Partaikomunis, sosialis, dan liberal di AS idem ditto.
BK memikul beban berat mengatur bangsa yang perangainya unmanageableini. Andai ia yakin pada demokrasi dan keberagaman, dua ciri utamakedua bangsa, nasib dia bisa berbeda.
Telah terbukti AS sekutu demokratis yang terbaik, bahkan dalammenghadapi musuh-musuh dalam selimut yang masih berkeliaran. Pelajaranterpenting: tak perlu tiap sebentar histeris meneriakkan slogananti-Amerika.

Bung Karno Vs Tiga Besar

Bung Karno Vs Tiga Besar (1)

Pada awal 1960-an minyak mencakup seperempat dari total ekspor RI. Industri ini didominasi multinational corporation atau MNC yang menanam modal 400 juta dollar AS dan diperkirakan melonjak ke satu miliar dollar AS tahun 1965.
Caltex Amerika Serikat (AS) menguasai 85 persen ekspor, Stanvac (AS) 5 persen, dan Permina 10 persen. Tahun 1963 total ekspor RI 94 juta barrel per tahun atau 1,7 persen dari konsumsi dunia.
Ekspor minyak dikuasai Shell (Belanda) yang per tahunnya 43 juta barrel—sementara Stanvac 10 juta barrel. Penerima terbesar adalah AS, Jepang, dan Australia.
Sejak tahun 1951, Bung Karno (BK) membekukan konsesi bagi MNC dan memberlakukan UU Nomor 44 Tahun 1960. UU ini menegaskan, "Seluruh pengelolaan minyak dan gas alam dilakukan negara atau perusahaan negara."
Sejak merdeka, MNC berpegang pada "let alone agreement". Cara ini menghindari nasionalisasi, namun juga mewajibkan MNC mempekerjakan tenaga lokal lebih banyak lagi.
Pembekuan konsesi membuat MNC kelabakan karena laba menurun dan produksi terhambat. "Tiga Besar" (Stanvac, Caltex, dan Shell) meminta negosiasi ulang.
BK menjawab, kalau MNC menolak UU No 44/1960, ia akan jual konsesi ke Jepang. Maret 1963 BK mengatakan, "Saya berikan Anda waktu beberapa hari untuk berpikir dan saya akan batalkan seluruh kontrak lama jika Tuan-tuan tak mau terima tuntutan saya."
Apa tuntutan BK? Ia minta Caltex menyuplai 53 persen dari kebutuhan domestik yang harus disuling Permina. Surplus produksi yang dihasilkan Tiga Besar harus dipasarkan ke luar negeri dan hasilnya diserahkan ke RI.
Caltex wajib menyerahkan fasilitas distribusi dan pemasaran dalam negeri dan biaya prosesnya diambil dari laba ekspor. Caltex juga menyediakan valuta asing yang dibutuhkan untuk biaya pengeluaran dan investasi modal yang dibutuhkan Permina.
Masih kurang, BK menuntut Caltex menyuplai kebutuhan minyak tanah dan BBM dalam negeri. Formula pembagian laba 60 persen untuk RI dalam mata uang asing dan 40 persen untuk Caltex dihitung dalam rupiah.
Karuan saja Caltex panik dan minta bantuan Presiden John F Kennedy. Mereka menilai tuntutan BK tak masuk akal dan bisa membuat Caltex bangkrut.
Tadinya Washington DC menganggap BK gertak sambal. Namun, waktu Presiden China Liu Shaoqi dan menteri Uni Soviet datang ke Jakarta membahas penjualan konsesi, mereka sadar BK tak main-main.
Duta Besar AS di Jakarta Howard Jones pusing. "Jika Tiga Besar keluar, AS tak punya pilihan kecuali membatalkan bantuan ekonomi. Jangan mengancam, BK tak bisa ditekan," lapor Jones ke Kennedy.
Saat itu RI baru mau ikut program paket stabilisasi IMF yang ditawarkan Kennedy. Sehari setelah penandatanganan paket itu, BK menerbitkan "Regulasi 18" yang isinya tuntutan resmi dia.
BK tak mau paket stabilisasi dikaitkan dengan Regulasi 18. Kennedy ketar-ketir dan segera mengirimkan utusan khusus, Wilson Wyatt, ke Tokyo, "mencegat" BK yang berada di Jepang.
Lewat negosiasi alot, BK dan Wyatt menyepakati sistem "kontrak karya" yang disahkan DPR, 25 September 1963. Intinya, RI memiliki kedaulatan atas kekayaan migas sampai ke tempat penjualan (point of sale).
MNC cuma kontraktor: Stanvac untuk Permina, Caltex untuk Pertamin, dan Shell untuk Permigan. Jangka waktu dan area konsesi dibatasi dibandingkan dengan kontrak-kontrak lama.
MNC menyerahkan 25 persen area eksplorasi setelah 5 tahun dan 25 persen lainnya setelah 10 tahun. Pembagian laba tetap 60:40, MNC wajib menyediakan kebutuhan untuk pasar domestik dengan harga tetap dan menjual aset distribusi-pemasaran setelah jangka waktu tertentu.
MNC mau menerima karena yang penting batal kehilangan konsesi. Kennedy dan Kongres langsung menyetujui paket stabilisasi IMF, yang oleh BK diselaraskan dengan Rencana Pembangunan Nasional (RPN) Ketiga yang berlaku delapan tahun (1961).
Tahap pertama RPN mencapai swasembada sandang-pangan, tahap kedua memulai industrialisasi. Jangan-jangan RPN jauh lebih baik dibandingkan dengan Repelita.
Bandingkan kontrak karya dengan profit-sharing agreement (PSA) ala Orde Baru yang justru antinasionalisasi. PSA seolah menempatkan RI sebagai pemilik, MNC kontraktor.
Namun, pada praktiknya MNC yang mengontrol ladang yang mendatangkan laba berlipat ganda—mirip kolonialisme. PSA pernikahan ideal antara kontrak bagi hasil yang seolah menempatkan RI jadi majikan dan sistem kontrak berbasis konsesi/lisensi yang profit oriented.
RI seakan pegang kendali, padahal MNC-lah yang punya kedaulatan. "Klausul stabilisasi" PSA mengatakan UU RI tak berlaku bagi setiap kegiatan MNC dan tak bisa jadi rujukan jika sengketa terjadi—yang berlaku hukum internasional yang tak kenal kepentingan nasional.
"Cerita sukses" PSA ini yang dipakai MNC untuk menguras minyak Irak. Ironisnya BK malah dikagumi presiden yang bukan orang sini: Evo Morales.
Populasi 100 juta, 70 persen di desa dan lebih dari 50 persen GNP berasal dari pertanian—dari industri 15 persen. Utang luar negeri 2,5 miliar dollar AS walau inflasi membengkak akibat PRRI/Permesta, Konfrontasi, dan pembebasan Irian Barat.
Tingkat melék huruf naik dari 10 ke 50 persen (1960). Sukses BK lainnya yang sering disebut orang luar negeri adalah membenahi pendidikan karena kualitas kurikulum membuat generasi muda siap bersaing di tingkat internasional.
Nah, ada pertanyaan?
Sumber:http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/05/utama/3492019.htm

Saturday, May 19, 2007

Mungkinkah Anda Belajar di Amerika?

Ulil Abshar Abdalla
Mahasiswa Program Master di Boston University, AS

Saya akan selesai dari program Master saya di Boston University bulan Mei mendatang. Saya menulis tesis tentang 的slamic Theory of Prophecy Revisited・ Saya mencoba menelaah kembali konsep kenabian dalam Islam, kemudian saya bandingkan dengan konsep serupa dalam agama Yahudi. Saya mengkaji teori kenabian dari sejumlah teolog Muslim Sunni, seperti Al-Syahrastani, Al-Ghazali, dan Fakhr al-Din al-Razi, kemudian saya bandingkan dengan seorang filosof dan ahli fikih Yahudi, Musa ibn Maimun, atau lebih dikenal sebagai Maimonides.
Saya dibimbing oleh dua profesor ahli Islam di Boston University, yaitu Prof. Diana Lobel yang ahli tentang perbandingan mistik Yahudi dan Islam, dan Prof. Merlin Swartz, murid seorang ahli Islam yang sangat kesohor, Prof. George Makdisi. Prof. Lobel baru-baru ini menerbitkan sebuah buku tentang pengaruh gagasan mistik Islam dalam perkembangan mistik Yahudi, 鄭 Sufi-Jewish Dialogue: Philosophy and Mysticism in Bahya ibn Paquda痴 Duties of the Heart・
Sementara Prof. Swartz dikenal lewat studinya tentang Ibn al-Jauzi, 鄭 Medieval Critique of Anthropomorphism: Ibn Al-Jawzi痴 Kitab Akhbar As-Sifat・ Prof. Swartz baru-baru ini pensiun dari jabatannya sebagai profesor ahli Islam di Boston University, digantikan oleh profesor baru, seorang perempuan yang cantik, lulusan Duke University, yaitu Prof. Kecia Ali yang ahli dalam bidang fikih.
Teori kenabian memang tema yang sangat 殿ntic・dan jarang disentuh oleh sarjana Muslim saat ini. Sarjana Muslim terakhir yang menulis mengenai tema ini adalah Prof. Fazlur Rahman, guru Cak Nur dan Buya Syafii Maarif, dalam bukunya yang berjudul 撤rophecy in Islam: Philosphy and Orthodoxy・yang terbit pada 1958. Setelah itu, setahu saya, tak ada seorang sarjana Muslim yang menulis tentang tema ini. Setelah kekosongan dalam waktu yang lama, seorang sarjana Yahudi yang mengajar di Hebrew Univrsity, Jerusalem, Prof. Yohanan Friedman, menulis sebuah buku tentang tema ini, 撤rophecy Continuous・yang terbit pada 1989.
Kajian tentang tema ini, menurut saya, menarik sekali, sebab di sanalah kita bisa menjumpai sejumlah teori menarik yang dikemukakan oleh para teolog dan filosof Muslim tentang akal, intelek, jiwa, dsb. Tema tentang hubungan antara akal dan wahyu menempati kedudukan yang penting dalam sejarah intelektual Islam, tetapi jarang yang mengkaji bagaimana konstruksi akal dalam pandangan sarjana Muslim.
Saya sengaja membandingkan antara teori kenabian dalam Islam dan Yahudi, terutama melalui filsafat Maimonides. Maimonides adalah filsuf Yahudi yang hidup pada abad ke-13, kelahiran Spanyol, tetapi kemudian menghabiskan karirnya di Kairo, Mesir. Saya mengkaji teori kenabian Maimonides seperti tertuang dalam bukunya yang terkenal, 泥alalat al-Hairin・(Petunjuk Bagi Orang Bingung). Saya melihat ada suatu pengaruh yang menarik dari teori kenabian Islam dalam lingkungan Yahudi. Hal ini tentu tak mengherankan sebab Maimonides hidup dalam lingkungan kebudayaan yang secara mendalam dibentuk oleh gagasan Islam. Tentu, Maimonides tidak sekedar mengkopi teori-teori kenabian dari lingkungan Islam. Dia menyerap teori itu kemudian dimodifikasi sesuai dengan kerangka ajaran Torah.
Melalui perbandingan itu, saya ingin melihat bagaimana fenomena kenabian dijelaskan oleh dua agama yang sama-sama mempunyai kecenderungan yang kurang lebih serupa, yaitu kecenderungan legalistik, yakni Islam dan Yahudi.
Saya beruntung sekali bisa melanjutkan studi saya untuk tingkat doktoral di Universitas Harvard mulai September mendatang. Lingkungan akademik di kota Boston ini sangat menyenangkan sekali. Di kota ini terdapat sejumlah universitas terkemuka, seperti Universitas Harvard, MIT, Universitas Boston, Boston College, Universitas Tuft, dan Universitas Brandeis. Di kawasan ini bertebaran sejumlah ahli Islam. Di Harvard sendiri ada sejumlah ahli Islam, antara lain
Ali M. Asani, William Graham, Roy Muttahedeh, dan Muhammad Shahab Ahmad. Di Universitas Boston ada Merlin Swartz, Kecia Ali dan Robert Hefner yang tentu sangat dikenal oleh publik Indonesia. Di Universitas Tuft ada Mohamed A. Mahmoud yang baru-baru ini menerbitkan sebuah buku tentang pemikiran Mahmud Muhammad Taha, 轍uest for Divinity・ Di MIT, ada ahli Iran, Michael MJ Fischer, yang menulis buku cukup terkenal, 泥ebating Muslims・ Di Boston College ada James Morris yang ahli tentang Ibn Arabi.
Hal lain yang menyenangkan buat saya adalah adanya sejumlah perpustakaan besar yang mempunyai koleksi yang amat kaya tentang Islam. Perpustakaan yang
mengagumkan buat saya tentu adalah Widener Library di Universitas Harvard. Perpustakaan ini mempunyai koleksi sekitar 3 juta judul dalam bidang ilmu-ilmu kemanusiaan, termasuk koleksi mengenai tema Islam. Hampir semua buku yang dahulu hanya saya dengar namanya saja di pesantren dapat saya jumpai di sini. Hampir semua kitab berbahasa Arab dalam semua bidang ada di perpustakaan ini. Selain mengkoleksi buku dan kitab, Widener Library juga menyimpan manuskrip kuno yang langka. Setiap saya masuk kedalam gedung perpustakaan ini, saya seperti merasa berada dalam sebuah 都orga・ Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca dan 杜engobrak-abrik・koleksi perpustakaan ini. Saya merasa sedikit berjasa pada perpustakaan ini, sebab usulan saya agar pihak perpustakaan membeli sebuah tafsir berbahasa Jawa berjudul 鄭l-Ibriz・karya KH. Bisyri Mustofa, ayahanda Gus Mus, dikabulkan.
Kota Boston sangat enak dan menyenangkan sebagai tempat belajar. Kota ini sangat indah, tidak terlalu besar dan ramai seperti New York, tetapi juga tak
terlalu kecil dan sepi seperti Cornell atau Princeton. Hanya ada satu hal dari kota ini yang memberatkan bagi mahasiswa, yaitu biaya hidup yang mahal. Apartemen di kawasan Boston terkenal sangat mahal, sedikit di bawah Manhattan, New York. Harga sewa bulanan apartemen dengan dua kamar bisa mencapai US $ 1000-1300, setara dengan 9-12 juta rupiah. Dengan harga itu, saya mungkin bisa menyewa sebuah rumah utuh selama setahun di kawasan UIN Ciputat.
Kuliah di Amerika sangat unik, berbeda dengan system yang berlaku di negeri-negeri Barat yang lain. Di sini, kuliah menuntut kerja keras, sebab bahan bacaan kelas sangat banyak. Untuk satu mata kuliah, kita diharuskan untuk membaca bahan bacaan sekitar 150 hingga 300 halaman per minggu. Kadang bisa lebih dari itu. Jika kita mengambil empat mata kuliah, kita bisa 菟ingsan・karena harus membaca tak kurang dari 1000-1200 halaman per minggu. Tugas yang paling berat adalah menulis paper pada akhir semester. Rata-rata, paper akhir berjumlah 20-25 halaman. Tentu, yang dituntut bukan sekedar paper asal-asalan, tetapi paper yang membawa gagasan yang orisinal. Menulis paper adalah momok bagi semua mahasiswa paskasarjana di sini. Saya kadang tidak tidur selama berhari-hari hanya untuk menyelesaikan satu paper. Dengan sistem yang ketat dan beban bacaan yang berat seperti ini, kadang saya berpikir bahwa saya kekurangan waktu untuk menyerap bahan kuliah dengan baik.
Aspek positif dari kuliah model Amerika ini adalah kita dipaksa membaca banyak hal, dan ini sangat berguna untuk pendasaran teoritis bagi kerja akademis
dalam kangka panjang. Mahasiswa doktoral di sini dituntut untuk kuliah kelas (istilahnya 田ourse work・ selama minimal dua tahun. Setelah tahap ini dilalui,
baru seorang mahasiswa dapat mulai menulis disertasi. Ini berbeda dengan sistem di sejumlah universitas Eropa di mana mahasiswa PhD bisa datang langsung dengan rencana disertasi tanpa melalui kuliah kelas yang panjang.
Mendaftar sebagai mahasiswa PhD di Amerika bukan perkara mudah. Kompetisinya sangat ketat, terutama untuk masuk ke universitas utama yang disebut dengan Ivy League seperti Harvard. Keunggulan mendaftar ke propgram PhD di universitas besar dan kaya di Amerika adalah bahwa begitu anda masuk, kemungkinan besar seluruh biaya kuliah dan kebutuhan hidup bulanan (disebut dengan 都tipend・ ditanggung penuh oleh pihak universitas. Ini tidak terjadi pada universitas kecil yang tak mempunyai dana besar. Hanya saja, jika anda ingin masuk ke universitas besar tentu anda harus menghadapi persaingan yang ketat sekali.
Sistem pendaftaran untuk program PhD di sini agak unik. Di sini, faktor 塗ubungan・dengan professor memainkan peran yang sangat penting. Anda akan sulit diterima sebagai mahasiswa doktoral jika tak ada seorang profesor yang mengenal dengan baik kemampuan akademis anda. Ini bukan berarti unsur 渡epotisme・berlaku di sini. Faktor kenalan ini sangat ditekankan karena pihak universitas tidak hendak menerima mahasiswa yang tidak mereka ketahui benar
kemampuannya. Dokumen tertulis dan hasil nilai ujian dalam ijazah tidak sepenuhnya mereka percayai.
Faktor berikutnya yang sangat penting juga rekomendasi. Surat rekomendasi dari seorang professor yang mengenal secara baik kemampuan akademis seorang pendaftar sangat menentukan. Umumnya, universitas membutuhkan empat rekomendasi. Dua dari profesor yang pernah mengajar anda secara langsung. Dua lagi profesor yang mengenal kehidupan non-akademik anda dalam masyarakat. Tidak seperti di Indonesia, di sini seorang profesor tidak bisa dengan mudah memberikan rekomendasi kepada seseorang yang tidak mereka kenal dengan baik. Sebab, saat menulis rekomendasi, mereka mempertanggungjawab kan reputasi mereka sebagai seorang profesor. Oleh karena itu, membangun hubungan yang baik dan berdiskusi dengan profesor tertentu sangat penting bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke tingkat doktoral.
Aspek lain yang juga sangat penting adalah menyangkut statemen pribadi. Setiap anda mendaftar ke program paskasarjana di sini, anda akan diharuskan menuliskan apa yang disebut sebagai 都tatement of purpose・yang berisi, kira-kira, rencana apa yang anda akan lakukan jika sudah diterima. Dalam statemen itu, anda diminta untuk menuliskan rencana disertasi, temanya, dan kenapa tema itu dipilih. Dalam statemen itu, aspek yang paling menentukan adalah bagaimana anda merumuskan pertanyaan dengan benar untuk suatu masalah yang akan anda tulis. Anda hanya mempunyai ruang yang sempit sekali. Sebab statemen itu kira-kira hanya sepanjang 900 kata. Dalam tulisan sependek itu anda diharuskan untuk merumuskan masalah dengan tepat dan baik, sehingga profesor yang duduk di komite penerimaan mahasiswa baru yakin betul bahwa anda layak diterima. Saya sendiri membutuhkan waktu tak kurang dari dua bulan hanya untuk menyiapkan esei pendek itu. Sebab, esei inilah yang dipakai oleh pihak komite
untuk menilai siapa anda sebetulnya.
Tentu syarat-syarat administratif juga sangat penting. Anda harus mempunyai skor TOEFL minimal 600, atau jika memakai tes TOEFL yang sudah memakai sistem on-line sekarang (dikenal dengan iBT, 妬nternet Based Test・, anda harus mencapai skor antara 100-110. Saat ini, tes TOEFL mencakup aspek kecakapan berbicara, jadi agak sedikit susah dibanding dengan tes sebelumnya. Skor TOEFL ini sangat mutlak, dan tidak bisa ditawar-tawar.
Selain itu, anda juga harus melalui tes GRE atau tes kemampuan akademik secara umum. Kebanyakan universitas Amerika menuntut skor GRE (Graduate Record Examination) antara 600-700 untuk semua aspek: kuantitaif, verbal, dan kemampuan analisis. Umumnya skor anak-anak Indonesia yang datang dari latar belakang humaniora sangat jauh di bawah standar itu. Tetapi ini tak usah membuat kita khawatir. Beberapa departemen di universitas Amerika tidak terlalu ambil pusing dengan skor yang anda peroleh. Mereka tahu, skor GRE yang rendah tidak langsung berarti bahwa mahasiswa bersangkutan tidak mempunyai kemampuan akademik yang memadai. Yang penting anda mengikuti tes GRE untuk memenuhi syarat administrasi. Meskipun demikian, ada beberapa universitas yang menerapkan syarat yang ketat untuk skor GRE, seperti Duke University, tempat Prof. Bruce Lawrence mengajar (Prof. Lawrence pasti dikenal oleh publik Jakarta, sebab beberapa waktu lalu pernah berkunjung ke Jakarta dan memberikan cermah
di sejumlah tempat).
Taktik mendaftar di perguruan tinggi di Amerika juga penting dikuasai. Karena kompetisi untuk masuk universitas sangat tinggi di sini, anda harus mendaftar sekurang-kurangnya di lima universitas. Kalau tak diterima di universitas yang satu anda masih punya harapan lain. Anda bisa membuat ranking sendiri,
dimulai dari universitas yang paling top hingga ke yang menengah. Tetapi di antara kelima universitas itu, anda harus mempunyai satu universitas yang anda
berharap besar bisa diterima, entah karena mempunyai hubungan yang baik dengan seorang profesor di universitas itu atau karena faktor lain. Saya,
misalnya, kemaren mendaftar di lima departemen di empat universitas. Saya mendaftar di dua departemen di Universitas Harvard, dan masing-masing satu departemen di Universitas Princeton, Universitas Chicago dan Universitas Boston. Saya tetap mendaftar di Universitas Boston, meskipun ranking-nya di bawah tiga universitas yang lain, sebab saya kenal banyak profesor di sana dan dengan itu saya berharap besar saya bisa diterima.
Sebagaimana kata teman saya Rizal Mallarangeng, universitas terbaik di dunia saat ini umumnya ada di Amerika Serikat. Oleh karena itu, jika anda ingin mendapatkan pendidikan terbaik dalam segala bidang, sudah selayaknya anda mendaftar di Amerika. Yang sangat khas pada universitas Amerika adalah
kedermawanan universitas Amerika dalam memberikan beasiswa. Dalam aspek ini, saya kira, universitas Amerika tak ada tandingannya di manapun. Ini
dimungkinkan karena universitas Amerika umumnya kaya dan memiliki dana besar. Sebagai gambaran, Universitas Harvard memiliki dana wakaf atau 兎ndowment・kira-kira 26 milyar dollar. Jumlah itu nyaris sama dengan cadangan devisa Indonesia sebagai sebuah negara. Oleh karena itu, tak heran jika sebagian besar mahasiswa PhD yang diterima di Harvard akan ditanggung seluruh pembiayaannya oleh universitas. Selama ini, ada kesalahpahaman tentang seluk-beluk beasiswa untuk sekolah di Amerika. Umumnya orang mengira bahwa biaya untuk sekolah di Amerika hanya bisa diperoleh melalui Fulbright. Untuk sebagian memang benar. Fulbright adalah dana beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Amerika untuk para mahasiswa luar negeri yang ingin sekolah di negeri Paman Sam itu. Tetapi jarang yang tahu bahwa masing-masing kampus juga memberikan beasiswa dalam jumlah yang tak kalah besar dengan yang diberikan oleh pihak Fulbright. Ribuan beasiswa berkeliaran di Amerika. Yang dibutuhkan adalah ketekunan anda untuk 杜emancing・beasiswa itu dengan cara tekun mencari informasi sebanyak-banyaknya. Dan・ang sangat penting anda lakukan adalah rajin berhubungan dengan profesor di Amerika. Tidak seperti profesor di Indonesia yang suka 屠aim・atau 屠aga imej・ profesor di Amerika sangat senang membalas email, walaupun mereka ini sudah profesor besar. Pengalaman yang dialami oleh teman saya Sukidi, kader Muhammadiyah yang sangat cerdas itu dan sudah masuk ke Harvard setahun lebih dulu daripada saya, sangat mengesankan. Saat dia hendak mendaftar ke Harvard Divinity School (HDS) tiga tahun yang lalu, dia mengirim email ke Prof. William Graham, seorang profesor ahli kajian Islam yang cukup terpandang di Harvard dan sekaligus Dekan HDS. Sukidi berkirim email untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan keinginannya untuk mendaftar ke Harvard. Prof. Graham menjawab dengan simpatik, dan bahkan bersedia ikut mengoreksi 都tatement of purpose・yang telah disiapkan oleh Sukidi. Padahal Sukidi bukanlah seseorang yang dikenal oleh Prof. Graham. Apakah mungkin hal seperti ini terjadi
pada profesor di Indonesia?
Tradisi akademis di Amerika memang beda dengan di negeri kita. Di sini, jika ada seorang mahasiswa yang cemerlang, pihak profesorlah yang aktif ingin menarik yang bersangkutan untuk menjadi mahasiswa dia. Di Indonesia yang terjadi kadang-kadang aneh: jika ada mahasiswa yang menonjol dan cemerlang, si dosen malah merasa tersaingi. Karena itu, kalau anda merasa diri anda mempunyai kecapakan akademis yang memadai dan mempunyai keunggulan di bidang tertentu, tulislah email ke profesor-profesor di Amerika, perkenalkan diri, dan bangunlah hubungan yang baik. Itulah modal awal untuk sekolah di Amerika. Saat ini, dengan adanya internet, anda akan dengan mudah mencari informasi seluruh universitas di Amerika. Setiap universitas akan menampilkan seluruh profesor yang mengajar di masing-masing departemen, lengkap dengan latar-belakangnya, keahliannya, dan emailnya, sehingga siapa saja bisa mengubungi. Sekarang ini, nyaris tidak ada yang tidak bisa sekolah pada tingkat doktoral di luar negeri, asal anda berusaha dengan sungguh-sungguh. Soal dana bukanlah masalah besar, sebab sebagian besar universitas di Amerika meneyediakan dana untuk itu. Memang keuntungan seperti ini hanya untuk mahasiswa PhD. Untuk level magister, memang lain keadannya.
Sekian, semoga informasi ini bermanfaat.

Boston, 25 Februari 2007.

Hanjeli, bukan Sekadar Pengganjal Perut


Hanjeli, bukan Sekadar Pengganjal Perut
MUSIM kemarau memang belum menunjukkan tanda-tanda bakal datang. Hujan masih saja mengguyur dalam intensitas sedang hingga tinggi. Akan tetapi, masyarakat sejumlah desa di Kec. Cipongkor Kab. Bandung sudah bertanam hanjeli. Tumbuhan itulah yang mereka konsumsi sebagai pengganti nasi setiap kali kekurangan beras. Maklum, mayoritas sawah di Cipongkor adalah sawah tadah hujan.”Ini tradisi yang kami jalani sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Bahkan, katanya, sebelum pindah ke nasi, makanan pokok orang-orang tua dulu, di sini, ya hanjeli,” tutur Ny. Waway (45), warga Desa Sukamulya Kec. Cipongkor, Kamis (17/5).
Hal itu dibenarkan Ajan Zaenudin (40), juga warga setempat. Ia menuturkan, hanjeli membutuhkan waktu setidaknya 6 bulan untuk siap dipanen. Kendati demikian, warga Cipongkor selalu menanam hanjeli bersamaan dengan menanam padi. ”Ketika padi dipanen, hanjeli membutuhkan waktu 3 bulan lagi. Ya, itung-itung bersiap menghadapi kemarau panjang, seperti tahun lalu,” katanya.
Ny. Waway menuturkan, kecuali ditanak selayaknya nasi, hanjeli bisa diolah menjadi beraneka ragam jenis penganan, seperti bubur, lontong, peuyeum, dan sebagainya. ”Hanya, sebelum diolah, biji-biji hanjeli harus terlebih dahulu direndam selama dua malam. Kalau kurang dari itu, biji hanjeli masih keras,” ucapnya.
Ajan Zaenudin mengatakan, sebenarnya, masyarakat setempat menjadikan hanjeli hanya sebagai ganjel. Soalnya, di musim kemarau itu, banyak warga yang kesulitan membeli beras. ”Bukannya tak ada yang jual beras, melainkan harganya yang mahal. Daripada perut tak diisi.... Tapi, saat itu, tak hanya hanjeli yang dijadikan makanan alternatif. Banyak juga warga yang makan singkong,” tutur Ajan.
**
MEMBACA kisah tersebut, mungkin bakal terlintas tentang nasib mereka yang tak beruntung. Namun, berdasarkan penelusuran ”PR” di dunia maya, ternyata, hanjeli mengandung khasiat untuk kepentingan pengobatan, seperti untuk mengusir tumor pencernaan.
Tumbuhan tersebut memiliki nama Latin Coix lacryma-jobi L atau Coix agrestis lour. Kosakata Indonesia ”mengenalnya” sebagai jali. Sementara, di sejumlah wilayah negeri ini, tumbuhan tersebut dikenal sebagai singkoru batu, kemangge, bukehang, kaselore, dan --itu tadi-- hanjeli.
Tumbuhan tersebut berkembang biak dengan biji. Berdaun pita dengan permukaan daun berbulu. Sekilas, hanjeli mirip rumpun tebu ”mungil” yang memiliki tinggi 1 meter. Bulir bijinya beruntai bulat-bulat dengan kulit yang keras. Warna bijinya hijau, yang pada saat matang berwarna putih. Ternyata, biji hanjeli mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin B1, asam amino, coixol, coixenolide, dan coicin. Secara farmakologis, biji hanjeli dapat memperkuat limfa dan paru-paru, meningkatkan daya tahan tubuh, peluruh kencing, antiradang, mengeluarkan nanah, antitoksin, dan menyembuhkan bisul. Biji hanjeli juga mampu mengganggu pertumbuhan sel kanker pada tingkat metafase. Di samping itu, bagian ini juga mampu meningkatkan fungsi korteks adrenal dan menambah imunitas sel serta fungsi hormonal.


Bagian lain yang kerap digunakan untuk pengobatan adalah daun dan akar. Daun hanjeli mengandung alkaloid, sedangkan akarnya mengandung coixol, asam pamitate, asam stearat, stigmasterol, betha dan gamma-stosterol, potassium chlorida, glukosa, asam amino, tajin, phytin, dan vitamin B1. Dari sisi farmakologis, akar hanjeli menguatkan limfa, peluruh kencing, antiradang, mematikan serangga, dan anti-toksin. Ternyata, hanjeli bukanlah penegas nasib yang tak beruntung. (Hazmirullah/”PR”)***

Wednesday, May 16, 2007

Gus Dur Gugat Kalla Rp 1 TriliunKhilaf dan Terima DKP Rp 200 Juta, Amien Rais Siap Dibui

JAKARTA, (PR).-Mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur menggugat Wakil Presiden M. Jusuf Kalla, untuk membayar ganti rugi Rp 1,1 triliun atas perbuatan pencemaran nama baik. Gugatan disampaikan kuasa hukum Gus Dur, Ikhsan Abdullah, dan diterima Panitera Muda Perdata Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Selasa (15/5).
Menurut Ikhsan, gugatan itu dilayangkan kepada Jusuf Kalla karena sampai saat ini Jusuf Kalla dinilai tidak memiliki itikad baik, untuk meminta maaf atas pernyataan yang dilontarkannya 9 April 2007 lalu. "Somasi kami memang sudah dijawab, tapi jawaban itu sama sekali tidak memuat permintaan maaf atau klarifikasi terhadap pernyataan yang ia lontarkan. Sebab kami nilai tidak ada itikad baik, kami ajukan gugatan," tuturnya.
Jusuf Kalla beserta dua pimpinan redaksi media massa, Harian Duta Masyarakat dan situs berita detik com, digugat membayar ganti rugi material Rp 100 miliar, dan ganti rugi imaterial sebesar Rp 1 triliun. Ganti rugi material dan imaterial sebesar itu pantas untuk diterima Gus Dur, sebagai tokoh besar yang menjadi panutan Nahdlatul Ulama (NU) serta pernah menjabat Presiden.
"Gus Dur sebagai panutan dan tokoh telah tercemar nama baiknya oleh pernyataan Jusuf Kalla. Ganti rugi sebesar itu pantas untuk tokoh sebesar beliau," ujarnya.
Pada 9 April 2007, dalam pengaderan fungsional Partai Golkar di Cibubur, Jusuf Kalla melontarkan pernyataan bahwa saat ia menjabat Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Gus Dur pernah meminta uang kepadanya. Menurut Kalla, karena permintaan itu ia tolak, Gus Dur yang saat itu menjabat presiden lalu mencopotnya dari jabatan Kabulog.
Ikhsan menilai, pernyataan Kalla sangat merugikan dan mencemarkan nama baik Gus Dur. Perbuatan Jusuf Kalla, katanya, telah melanggar Pasal 1365 KUHPerdata, tentang Perbuatan Melawan Hukum.
Karena khilaf
Sementara itu, dalam jumpa pers di Pusat Penelitian Strategi dan Kebijakan (PPSK) Kampung Belimbing Sari, Sleman, Yogyakarta, Selasa (15/5), Amien Rais menyatakan, delapan lembar cek masing-masing Rp 25 juta dari mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri, diterima langsung oleh Amien Rais.
Mantan Ketua Umum PAN pun rela dibui. "Saya dipenjara 10 tahun tak soal, tapi lainnya harus dihukum lebih berat," kata Amien. Dana itu diserahkan Rokhmin saat berkunjung ke rumah dinas menjelang kampanye. "Ini sumbangan untuk Pak Amien," ujar Amien menirukan ucapan Rokhmin.
Menurutnya, dana diserahkan kepada bendahara DPP PAN dan digunakan untuk membayar iklan kampanye pilpres di TV. "Tidak saya kurangi sedikit pun. Saatitu memang tergesa-gesa. Kalau saya menerima, ini kekhilafan," ujar mantan Ketua MPR ini.
Selain Amien, anggota tim kampanye partai berlambang matahari terbit ini juga menerima dana DKP Rp 200 juta. "Dana yang saya terima lewat tangan saya Rp 200 juta, dan mungkin Rp 200 juta lainnya lewat anggota tim kampanye," kata Amien yang mengenakan batik lengan pendek warna coklat ini. (dtc)***

Tuesday, May 15, 2007

NASI JAMBAL DAN TIMBEL KHAS RESTORAN GILI-GILI


Metrotvnews.com, Bogor: Makanan tak hanya dapat dinikmati dari rasa yang dikecap. Terkadang penikmat kuliner juga ingin dimanjakan dengan 'roh' alam pedesaan yang indah, sehingga selera makan makin mengasyikkan. Boleh jadi itulah yang mendasari pemilik Restoran Gili-gili di Kota Bogor, Jawa Barat. Restoran ini memanjakan konsumennya dengan menikmati makanan diiringi nuansa sawah membentang.

Restoran Gili-gili yang berada di pusat kota bernuansa pedesaan dengan hamparan sawah di sekelilingnya. Menu khas Sunda, yakni nasi jambal dan nasi timbel menjadi andalan suguhan resto di Jalan Pajajaran ini. Menu nasi jambal merupakan nasi yang telah dicampur menyatu dengan ikan asin jambal. Tak hanya itu. Menu ini ditambah lauk pelengkap, seperti empal, goreng tahu, oseng oncom, lalap, yang bisa melengkapi bermacam rasa dari kuliner yang dicicipi.

Begitu pula dengan nasi timbel. Nasi yang di bungkus dengan daun pisang ini bersanding bersama sayur asam sebagai teman bersilat lidah. Selebihnya lauk pelengkap plus lalapan juga menyertai nasi timbel, serupa penyajiannya dengan nasi jambal. Dan tentu saja rasa sambal yang pedas menggugah selera para penikmat nasi jambal serta nasi timbel di restoran ini.

Menurut Didin Mardiansyah, pengelola Restoran Gili-gili, para pengunjung tak hanya terbuai dengan enaknya masakan. Nuansa pedesaan dengan pemandangan sawah terhampar di sekeliling pun disesuaikan dengan makna kata Gili-gili dari bahasa Sunda yang berarti pematang sawah. Bagi para pengunjung yang membawa anak-anak tersedia pula tempat bermain yang cukup memadai. Dengan lahan yang cukup luas, para pengunjung dapat memilih, menyantap makanan dengan duduk di kursi atau lesehan bersama di saung yang telah disediakan.(DEN)

KE CIANJUR, JANGAN LUPA MENCICIP GECO IDING

Metrotvnews.com, Cianjur: Mendengar nama Kota Cianjur, masyarakat tentu langsung ingat akan beras Cianjur dan tauco. Ya, memang kota di belahan Jawa Barat ini termashur dengan beras dan tauconya--kacang kedele yang diolah sedemikian rupa dan dimasak serta dicampur dengan cabe rawit. Tapi jangan salah, di Cianjur juga tersedia aneka ragam manisan, yakni jenis makanan olahan dari berbagai buah-buahan dengan bermacam-macam rasa (asin, manis, pedas).

Tapi, untuk yang satu ini, boleh jadi belum banyak yang tahu. Ya, Geco alias toge tauco. Dengan rasa dan aroma yang sangat khas, makanan ini kini sudah gampang ditemui di Cianjur. Salah satunya di warung makan sederhana milik Iding di Jalan Siti Jenab. Warung Iding ini memang hanya menyediakan satu jenis makanan, yakni Geco.

Seperti namanya, bahan utama makanan ini sayur toge dan bumbu tauco. Iding mengkombinasikannya dengan irisan ketupat, kentang rebus dan tahu kunig serta mi. Sejumlah penggemar makanan ini mengatakan kompoisis Geco mirip dengan gado-gado. Neneng, langganan setia Warung Iding mengatakan, kelezatan Geco terletak pada variasi rasanya yang sangat lengkap. "Asemnya ada, pedes ada, seger," aku Neneng yang sudah berlangganan sejak kecil.

Untuk mendapat rasa Geco yang pas di lidah penggemarnya, bukah hal mudah. Iding mengaku belajar membuat Geco langsung dari almarhum ayahandanya yang sudah berjualan Geco sejak 1957. Rahasinya pada kualitas tauco dan keterampilan meramu bahan serta bumbu lainnya.

Bagi yang berminat membuat sendiri Geco di rumah, caranya cukup mudah. Iding berpesan sayur toge dipilih yang benar-benar segar. Demikian pula bahan-bahan lainnya. Semua bahan yang sudah diiris kecil ditaruh di piring. Setelah itu toge rebus setengah matang dimasukkan. Terakhir, siram dengan kuah tauco kental. Jangan lupa, kecap manis dan sedikit cuka. Dan Geco dari Iding pun sidap dihidangkan.(DEN)

TAHU TEK ASAL LAMONGAN


Metrotvnews.com, Lamongan: Tahu tek! Hmm... Inilah makanan khas Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Mungkin Anda heran mengapa makanan khas ini dinamakan demikian? Disebut tahu tek karena tahu, kentang, lontong dan telur dipotong-potong menggunakan gunting, sehingga mengeluarkan bunyi tek-tek yang khas.

Untuk membuat tahu tek, terlebih dahulu disiapkan bahan-bahannya. Pertama kali, tahu, telur dan kentang digoreng. Sambil menunggu matang, bumbu-bumbu disiapkan. Untuk membuat bumbunya, disiapkan bawang putih, kacang dan petis. Jika ingin pedas, bisa ditambahkan cabe sesuai selera. Semua bahan bumbu dihaluskan sambil ditambah air sedikit demi sedikit.

Setelah bumbu siap, bahan yang sudah digoreng dimasukkan ke piring bersama lontong dan taoge. Bunyi khas gunting untuk memotong semua bahan inilah yang menjadikan sang penjual dikenali pelanggannya. "Setelah semua bahan siap, barulah, bumbu petis disiramkan dan ditambah kerupuk," kata Saean, penjual tahu tek.

Menilik bahan-bahannya, tahu tek tidak ubahnya makanan sejenis ketoprak atau gado-gado. Namun, bumbu kacang ditambah petis, sehingga aroma udangnya makin terasa. Saifudin yang mengaku penggemar tahu tek mengaku, makanan ini jauh lebih nikmat dan segar jika dimakan siang hari. Untuk menikmatin tahu tek, Anda hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Rp 3000 per satu porsinya.(DOR)

KUE KENYAL KELAPA MUDA GORENG DARI KEDIRI

Metrotvnews.com, Kediri: Kesegaran es kelapa muda mungkin sudah sering Anda nikmati. Namun, di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Anda akan menemukan kelapa muda goreng yang dinikmati bersama es kelapa muda. Selain manis, kue ini juga berasa gurih dan kenyal khas rasa kelapa muda. Hhmmm...nikmat!

Salah satu tempat untuk menikmati Anda bisa pergi warung kelapa muda milik Solekhan alias Kancil. Warung tak hanya menyajikan es kelapa muda seperti warung lain, tapi warung Kancil di Kelurahan Bandar, Mojoroto, Kediri, ini Anda akan menemukan degan goreng. Degan dalam bahasa Jawa berarti kelapa muda.

Sekilas, kelapa muda goreng ini tak berbeda dengan kue goreng lain. Cara pembuatannya pun tidak berbeda dengan cara membuat gorengan lain. Kelapa muda cukup dicampur dengan tepung terigu dan gula pasir. Yang membuatnya berbeda adalah proses pencampuran seluruh adonan harus memakai air kelapa. Campuran air kelapa ini agar rasa gurih khas kelapa muda makin terasa. Setelah seluruh adonan tercampur merata barulah siap digoreng.

Kancil mengaku mulai terinspirasi membuat kelapa muda goreng karena banyaknya kelapa yang terlalu tua dibuat es kelapa. Karena itu, ia mencoba membuat kelapa goreng. Ternyata eksperimennya makin hari makin diminati.

Menurut para penggemarnya, kelapa goreng ini rasanya perpaduan manis, gurih dan kenyal khas rasa kelapa. Selain rasanya yang enak, mereka mengaku gorengan ini bisa meningkatkan vitalitas. "Apalagi harganya cukup murah," kata Silvi, seorang pembeli. Satu kue hanya dijual Rp 500.

Menikmati kue kelapa muda goreng ini bisa sekaligus meneguk kesegaran es kelapa muda. Namun, jika belum puas, Anda bisa membungkus kue sekaligus es kelapanya. Dalam sehari, sedikitnya 300 kue terjual habis di warung Kancil.(DOR)

Dipecat, Kok Malah Jadi Dandim

2007-05-15 07:27:00

Menelisik Tim Mawar
Jakarta - Nama Tim Mawar selalu melekat bila kita memperingati Tragedi Mei 1998. Sebelum kerusuhan, 9 aktivis pro demokrasi diculik oleh pasukan elit TNI AD yang disebut Tim Mawar ini. Setelah 9 tahun berselang, bagaimana nasib mantan Tim Mawar?

Cukup mengejutkan. Sebab, sebagian dari mereka saat ini malah menjabat sebagai Komandan Kodim (Dandim). Hal ini cukup aneh, sebab sebagian dari mereka sebenarnya divonis dipecat dari anggota TNI. Apakah vonis pemecatan itu tidak dilakukan Mabes TNI?

Sejak kasus penculikan 9 aktivis pro demokrasi terungkap sembilan tahun lalu, tim yang di bawah kendali Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD ini dibubarkan. Sejumlah pejabat di satuan elit yang tidak seharum namanya ini dicopot dari jabatannya, belasan anggotanya dihukum penjara dan dipecat sebagai prajurit TNI.

Kasus penculikan aktivis pro demokrasi, seperti Pius Lustrilanang, Desmon J Mahesa, Andi Arief, Faesol Reza, Haryanto Taslam, Raharjo Waluyo Jati, dan Nezar Patria membawa 11 orang prajurit Kopassus diadili melalui Mahmakah Militer Tinggi (Mahmilti) II Jakarta pada April 1999.

Saat itu Mahmilti II Jakarta yang diketuai Kolonel CHK Susanto memutus perkara nomor PUT.25-16/K-AD/MMT-II/IV/1999 yang memvonis Mayor Inf Bambang Kristiono (Komandan Tim Mawar) 22 bulan penjara dan memecatnya sebagai anggota TNI.

Mahmilti juga memvonis Kapten Inf Fausani Syahrial (FS) Multhazar (Wakil Komandan Tim Mawar), Kapten Inf Nugroho Sulistiyo Budi, Kapten Inf Yulius Selvanus dan Kapten Inf Untung Budi Harto, masing-masing 20 bulan penjara dan memecat mereka sebagai anggota TNI.

Sedangkan, 6 prajurit lainnya dihukum penjara tapi tanpa dikenai pemecatan sebagai anggota TNI. Mereka itu adalah Kapten Inf Dadang Hendra Yuda, Kapten Inf Djaka Budi Utama, Kapten Inf Fauka Noor Farid masing-masing dipenjara 1 tahun 4 bulan. Sementara Serka Sunaryo, Serka Sigit Sugianto dan Sertu Sukadi dikenai hukuman penjara 1 tahun.

Enam perwira TNI yang dipecat itu kemudian mengajukan banding. Nah, hasil banding inilah yang hingga saat ini belum pernah diungkap ke publik. Hingga sekarang, Selasa (15/5/2007), tidak diketahui apa putusan pengadilan banding terhadap mereka. Apakah pengadilan banding menganulir putusan Mahmilti II Jakarta sehingga mereka batal dipecat atau malah mempertahankan vonis Mahmilti II, belum diketahui pasti.

Yang jelas, saat ini para perwira Tim Mawar ini memiliki jabatan yang lumayan tinggi dengan pangkat letnan kolonel (Letkol). Rata-rata mereka menjabat Komandan Kodim (Dandim). FS Multhazar misalnya, saat ini menjabat Dandim 0719/Jepara dengan pangkat Letkol. Untung Budi Harto menjabat Dandim 1504/Ambon dengan pangkat Letkol.

Sementara Dadang Hendra yang saat Mahmilti II hanya dikenai hukuman penjara tanpa dikenai pemecatan menjabat sebagai Dandim 0801/Pacitan dan Djaka Budi Utama sebagai Komandan Yonif (Dan Yon) 115/Macan Lauser.

Kenaikan pangkat hingga menjadi letkol dan jabatan cukup penting yang mereka sandang saat ini perlu dipertanyakan. Terutama para perwira TNI yang saat itu dipecat dari kesatuan TNI. Mengapa mereka yang pernah mendapat hukuman penjara tetap diberi jabatan penting? (zal/asy)

(news from cache) - Reload from Original

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/05/tgl/15/time/072743/idnews/780739/idkanal/10

Kisah Anwar-Khonik di Negeri Mimpi

"Saya kepingin pulang," kata Khonik dengan wajah sendu, saat ditemui Gatra di kamar 486, Unit Psikiatri Rumah Sakit Universitas Pennsylvania, Philadelphia, Amerika Serikat. Wanita itu baru tenang hatinya setelah diyakinkan bahwa dia segera pulang beberapa hari lagi.

Khonik memang mengalami tekanan jiwa cukup berat. Bayangkan, sejak kedatangannya ke Amerika Serikat dua tahun lalu, ibu berusia 30 tahun itu tak henti-henti didera kemalangan. Dua anaknya diambil hak asuhnya oleh Pemerintah Amerika Serikat, sedangkan suaminya dideportasi alias dipulangkan secara paksa ke Indonesia. "Dia lebih menderita dari saya," ujar Anwar, suaminya, saat dihubungi di Surabaya dari Amerika.

Seperti halnya keluarga muda, Anwar Muhammad dan Khonik Insiyah awalnya bahagia. Sebagai lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya, Anwar mampu mencukupi kebutuhan keluarga dengan mengajar bahasa Inggris di berbagai lembaga kursus di "kota pahlawan". Namun, demi memperbaiki nasib, Anwar tergiur berangkat ke Amerika Serikat pada 2001.

Awalnya Anwar bekerja sebagai buruh serabutan. Dua tahun kemudian, saat Amerika mencanangkan "wajib lapor" bagi warga asing, Anwar yang hanya mengantongi visa turis ikut mendaftarkan diri. Seperti kaum imigran Indonesia lainnya, ia mengajukan suaka politik agar mendapat izin kerja. Juga biar merasa lebih aman.

Nah, agar gampang diberi suaka politik, atas usul pengacaranya, Anwar perlu membuat alasan yang masuk akal. Pria 35 tahun kelahiran Pasuruan, Jawa Timur, ini pun mengarang bahwa dia mantan anggota organisasi militan Islam di Jawa Timur yang diburu karena dianggap membelot.

Cerita karangan itu berhasil. Anwar pun mengantongi izin kerja resmi. Sambil menunggu permohonan suakanya diproses di pengadilan, Anwar bekerja di tempat lebih layak dibandingkan dengan warga Indonesia lainnya. Ia bisa menjadi pengantar piza Papa John atau menjadi tukang parkir, misalnya. Apalagi, Anwar tergolong pekerja keras sehingga "Hasilnya lumayan sampai ia bisa beli mobil sedan di Amerika dan rumah di Sidoarjo," tutur teman-temannya.

Agar ikut menikmati kehidupan yang lebih baik, diajaklah Khonik bersama anak perempuannya, Farah Husniatuz Zahra, ke Philadelphia pada 2005. Di sinilah kemalangan berawal. Suatu hari, Anwar ditelepon petugas INS (Badan Imigrasi Amerika) untuk diproses permohonan suakanya. Tanpa curiga, ia pun datang keesokan harinya ke kantor imigrasi. "Sampai di sana saya langsung diborgol dan dipenjara, padahal proses banding tengah berlangsung," katanya. Belakangan baru disadari, ia dituduh terlibat kelompok Islam militan yang diburu Amerika. "Lha, itu kan cerita ngarang saja," ujar Anwar.

Ditinggal beberapa bulan, Khonik pun mengalami krisis keuangan sehingga terpaksa bekerja. Apalagi, Rahmadani Fitri Muhammad, anak keduanya, lahir prematur tujuh bulan akibat ibunya stres, sehingga butuh biaya ekstra. Karena meninggalkan anak-anak balita dilarang di Amerika, Khonik tidak bisa bekerja jauh-jauh. Sehingga ia bekerja di toko pemilik apartemennya di Warung Surabaya, yang terletak di lantai dasar.

Beberapa hari berjalan seperti biasa, sampai terjadi musibah. Rahmadani jatuh dari gendongan Farah, kakaknya, berguling dari tangga lantai II ke bawah sehingga mengalami perdarahan di kepala. Baru keesokan harinya si bocah dibawa ke rumah sakit, dan Khonik berkelit bahwa dia yang menjatuhkan bayinya. Alasan Khonik tidak cocok dengan diagnosis dokter setempat, yang membuktikan bahwa bayinya gegar otak lantaran jatuh dari tempat yang tinggi. Bukan dari gendongan orang dewasa. Lantas, ke mana ibunya waktu kejadian?

Pertanyaan itu bagaikan mengorek kejujuran Khonik yang ingin melindungi anak tertuanya, Farah, melindungi pemilik apartemen, dan ingin menutupi statusnya sebagai imigran gelap. Semuanya terbongkar, dan Khonik digiring ke penjara dengan minimal empat tuduhan: menelantarkan anak balita, berbohong kepada petugas, menjadi imigran gelap dan, kalau tidak salah, ikut mendukung suaminya sebagai anggota kelompok militan. Keempat tuduhan itu baru disidangkan setelah persidangan mengenai perwalian anaknya, yang baru digelar pekan lalu.

Siang itu, Khonik digiring ke penjara kriminal wanita di State Road, Pennsylvania, sedangkan Rahmadani diambil Department of Human Services (Kantor Pelayanan Masyarakat) dan diasuh oleh sebuah keluarga Amerika. Sementara Farah dititipkan ke Rosamelati Andawesi, teman Khonik sesama kelompok pengajian di Philadelphia. "Saya nangis dan bingung. Saya mau diapain," tutur Khonik, yang tidak mampu berbahasa Inggris itu.

Setelah dua hari di penjara, Khonik dibebaskan dengan uang jaminan US$ 260 --dari semula US$ 2.600, berkat diplomasi petugas sosial Amerika. Malam hari setelah menerima uang jaminan, pihak penjara mengeluarkan Khonik. Ibu muda itu ditinggalkan begitu saja di tempat parkir pada malam hari di musim dingin. "Saya bingung, tolah-toleh nggak ada orang. 'Wait here! Saya bisa antar Anda setelah pulang kerja pukul 11 malam nanti,' kata pengantar saya orang Cina," ujar Khonik.

Setelah hampir satu jam, sebuah mobil tiba, dan Khonik langsung menghampirinya sambil memberi isyarat hendak meminjam telepon. Ia lalu menelepon Rosa, yang kemudian datang menjemputnya malam itu. Mereka berdua pun pulang ke kediaman Rosa di kawasan selatan Philadelphia.

Selama ditinggal suaminya bertugas ke Irak selama tiga bulan, Rosa bersedia menampung Khonik dan Farah. Selama beberapa pekan menunggu persidangan digelar, Farah bisa bersekolah dan bermain bersama anak-anak Rosa. Sedangkan Khonik membantu membersihkan rumah. Entah karena stres berat, pikiran Khonik pun sering goyang. Ia menanggalkan jilbab yang selalu dipakainya selama ini. "Ia merasa, gara-gara jilbab itu, ia ditahan," tutur Rosa dan teman-teman lainnya. Ia memotong rambutnya sebahu, mengenakan giwang, dan bersolek.

Yang fatal, suaminya meminta dicarikan pengacara untuk membebaskannya. Permintaan ini membuat Khonik jadi tertekan. Ia bermaksud mencari uang untuk membayar pengacara dan mendatangi agen tenaga kerja, tetangga Rosa. Rasa cinta dan tanggung jawab pada Anwar dan kedua anaknya membuat Khonik ingin cepat bekerja.

Agen itu senantiasa didatanginya tanpa kenal waktu. Dan tiga pekan lalu, Khonik menggayuti mobil sang agen agar dibawa ikut bekerja. Tentu saja tindakan ini mengganggu lingkungan di sekitarnya, sehingga polisi datang bersama petugas pelayanan masyarakat. Singkat kata, Khonik dibawa ke Rumah Sakit Universitas Pennsylvania untuk dirawat di unit psikiatri.

Ke mana Farah? "Karena saya bukan orangtuanya, dia diambil petugas pelayanan masyarakat dan dititipkan di sebuah keluarga Amerika," kata Rosa, yang tak mampu berbuat apa-apa. Sampai pekan lalu, kondisi Khonik mulai membaik dan bergaul dengan sesama penderita, walau sesekali diam termangu di tempat tidur. "Banyak zikir dan baca Al-Quran biar pikiran nggak ngelantur ke mana-mana," kata seorang penasihat spiritualnya. Khonik baru tahu bahwa Anwar sudah dideportasi ke Indonesia.

Bagaimana nasib kedua anaknya? Atas saran Iwanshah Wibisono, Konsul Bidang Penerangan Konsulat Jenderal RI (KJRI) di New York, teman-teman Anwar dan Khonik diminta menyampaikan surat permohonan agar perwalian Farah dialihkan pada keluarga Rosamelati dan Firdaus yang hanya memiliki dua anak. Surat permohonan yang dilampiri keterangan dari KJRI New York serta dari RW dan RT di Sidoarjo itu disampaikan ke Pengadilan Philadelphia pekan lalu, agar diluluskan. Sedangkan Rahmadani masih perlu dirawat orangtua asuhnya yang kebetulan seorang perawat.

"Saya tidak sempat melihat anak saya," kata Anwar dengan suara menahan haru. Adapun Khonik diperkirakan bakal dibebaskan dari rumah sakit pekan ini karena dianggap sehat. Ia selalu membawa tidur foto Rahmadani. "Kini berat badannya tujuh kilo dan menunggu gips kakinya dilepas," ujar Khonik sambil memandangi gambar bayinya yang gemuk. Sayang, Khonik masih harus sabar untuk pulang ke kota kelahirannya, Ngawi, Jawa Timur, karena menunggu proses pengadilan yang lama. Siapa bersedia membantu?

Didi Prambadi (Philadelphia)


Asylum

Saya lama tercenung membaca draf affidavit pasangan suami Salim (bukan nama sebenarnya, muslim pribumi) dan istri Lia (juga bukan nama sebenarnya, Buddhis keturunan Tionghoa) yang akan diajukan dalam sidang permohonan asylum. Dengan ketiga anaknya, keluarga asal Jakarta ini sedang meminta suaka Pemerintah Amerika Serikat melalui pengadilan kota Philadelphia. Atas rujukan Leonard Swidler, profesor saya di Temple University, saya diminta pengacara pasangan tersebut menjadi saksi ahli dalam persidangan itu, jika mau.

Dari pengakuan tertulis Salim dan Lia terlukis betapa pedih beban kehidupan sosial pasangan kawin campur ini. Karena Undang-Undang Perkawinan Nomor 1/1974, di atas kertas, mereka menikah secara Islam. Tapi, dalam kenyataan, kedua pihak menjalani praktek keagamaan sesuai keyakinannya masing-masing. Maka, konflik keluarga, pemencilan sosial, ancaman, sampai kekerasan fisik dan trauma psikologis terus membayangi kehidupan keduanya dan ketiga anak-anak mereka.

Secara khusus FPI disebut sebagai kelompok Islam radikal yang amat mereka takuti. Selama ada kelompok semacam itu, selama sistem hukum kita masih tidak dibenahi, nasib orang seperti mereka tidak akan aman di mana pun di bumi Indonesia. Begitu alasannya. Sehingga mengajukan permohonan pindah kewarganegaraan --tentu dengan biaya tidak kecil-- kepada negara seperti Amerika Serikat, yang dipercaya mampu menjamin hak-hak warganya, dianggap sebagai jalan keluar terbaik buat mereka.

Permohonan pasangan itu juga telah didukung seorang Indonesianis ternama, berdasarkan pertimbangan analisis politik ekonomi yang menjadi bidangnya.

Memilah

Lama saya masih terus tercenung, antara "ya" dan "tidak" untuk memenuhi permintaan sebagai saksi di pengadilan. Saya tahu, ada begitu banyak orang yang benar-benar bernasib sebagaimana dituturkan pasangan itu, bahkan yang lebih tragis, baik yang bisa meninggalkan Tanah Air maupun tidak. Menolong orang-orang yang teraniaya seperti itu, termasuk jika mereka terpaksa memilih menanggalkan kewarganegaraan, buat saya, adalah kewajiban kemanusiaan.

Sementara itu, seperti dalam semua kasus, ada juga orang-orang yang sengaja "mengail di air keruh", yang mengaku-ngaku telah jadi korban kekerasan agama atau penganiayaan etnis. Ada yang melakukan manipulasi dengan sengaja, ada pula yang "terpaksa". Untuk orang-orang demikian, saya harus menolak tegas. Upaya meraih "hidup lebih baik" adalah hak semua orang. Tapi memanipulasi kenyataan, termasuk dengan menistakan kelompok atau agama lain demi keuntungan pribadi, adalah kejahatan.

Terutama sejak kerusuhan Mei 1998, melimpah dan mendasarnya soal asylum di kalangan warga Indonesia (umumnya keturunan Tionghoa) di Amerika itulah yang membuat saya kini tercenung. Jika tidak mau menolong orang yang memang berhak, saya bersalah. Jika menolong orang yang sebetulnya tidak berhak, saya juga salah. Sejauh ini, memang telah banyak permohonan asylum warga Indonesia yang dikabulkan, meski banyak juga yang ditolak.

Manipulasi

Antara lain, inilah kisah yang membuat saya termangu. Meski permohonan asylum-nya telah ditolak, Anwar, seorang pekerja asal Pasuruan, Jawa Timur, bertekad tidak segera pulang ke Indonesia. Akibatnya, selama berbulan-bulan ia harus mendekam di penjara imigrasi Philadelphia, menunggu jadwal deportasi. Tadinya saya heran, sebagai muslim, nalar apa kiranya yang masuk akal buat dia dan keluarganya untuk "lari" dari Indonesia dan minta asylum Pemerintah Amerika Serikat?

Rupanya, entah karena terpaksa atau sengaja, konon ia merangkai cerita yang dianggap paling masuk akal buat menjustifikasi permohonan asylum-nya. Bahwa ia adalah anggota salah satu kelompok Islam yang dikejar-kejar di Indonesia. Celakanya, mungkin karena keluguannya, ia tidak tahu bahwa belakangan ternyata nama kelompok yang diakunya itu justru termasuk kategori "kelompok teroris" dalam daftar Pemerintah Amerika Serikat. Jadilah ia seperti tikus yang dengan sukarela mendatangi sendiri perangkapnya.

Istri Anwar yang belum lama menyusul dan tengah hamil tua amat shock mendapati gantungan hidupnya di negeri orang kini harus meringkuk di penjara. Ia pun melahirkan bayi secara prematur. Mengusung mimpi indahnya dari kampung, kini di Amerika, Khonik, si perempuan itu, hidup tanpa siapa-siapa, tanpa apa-apa, kecuali bersama si bayi dan anak pertamanya yang baru berumur tujuh tahun.

Tentu komunitas Indonesia di Philadelphia banyak yang mengulurkan tangan. Tapi, dengan keadaan mereka yang umumnya pekerja "non-status", siapa yang bisa sepenuhnya membantu tiga nyawa entah sampai kapan. Maka, ketika bayi merahnya baru berumur dua bulan, Khonik memaksakan diri bekerja di luar secara ilegal. Anak pertamanya diwanti-wanti supaya jangan sampai lalai menjaga si kecil.

Tapi, astagfirullah, betapa malang! Si bayi terjatuh hingga mengalami perdarahan di otak. Saking bingungnya, ketika ditanya petugas rumah sakit sehari berikutnya, penjelasan Khonik banyak yang tidak nyambung dengan fakta. Karena Khonik dianggap mencurigakan, polisi pun dihubungi. Dengan bahasa Inggris yang cuma "yes" dan "no", dalam interogasi itu omongan Khonik dianggap makin tidak keruan. Si bayi akhirnya diambil alih oleh pemerintah karena sebagai orangtua Khonik dinilai tidak becus mengurus anak. Beberapa minggu kemudian, perempuan yang "sudah jatuh tertimpa tangga" ini bahkan dijebloskan ke penjara kriminal kota Philadelphia dengan tuduhan melalaikan anak.

Mendengar cerita istri saya yang baru menyaksikan keadaan terakhir Khonik di penjara, hati saya tersayat-sayat. Apa yang kiranya akan dilakukan pemerintah kita untuk melindungi para warga seperti pelaku-pelaku cerita di atas. Juga terhadap pelaku cerita-cerita serupa lainnya, yang tidak cuma dua atau tiga? Baik ketika mereka berada di Tanah Air maupun ketika telah meninggalkannya demi perubahan nasib yang lebih baik. Makhluk seperti apakah "nasionalisme" bagi mereka?

Kekerasan Agama dan Etnis

Lalu, terlepas dari kisah kasus per kasus, apa artinya bahwa kekerasan agama dan etnis telah menjadi alasan paling masuk akal bagi begitu banyak warga kita yang mengajukan asylum di negara seperti Amerika? Salah satu jawabannya jelas bahwa hubungan antar-agama dan etnis yang selama ini diyakini sebagai suatu perekat primer kehidupan bangsa kita sesungguhnya kini dalam keadaan amat mencekam.

Maka, pujian diri soal toleransi dan keramahan Islam sebagai mayoritas yang sering dilakukan sebagian kiai itu tidak akan bisa diterima siapa pun kecuali oleh kelompoknya sendiri jika perusakan gereja masih terus terjadi, penyesatan kelompok lain terus lantang dikumandangkan, dan sebagai pemeluk keyakinan atau anggota etnis tertentu masing-masing pribadi tidak bisa aman dan bebas menjalankan keyakinan atau menyandang identitas dirinya. Konflik seperti terjadi di Poso lebih merupakan tengara kerapuhan ketimbang perkecualian situasi relasi sosial kita yang sesungguhnya.

Benar kata Isaiah Berlin dalam karya klasiknya, Four Essays On Liberty. Kemerdekaan negatif, "kemerdekaan dari" (freedom from), yakni absennya campur tangan pihak lain bukanlah kebebasan sesungguhnya. Ia pun tidak terlalu sulit ditegakkan. Sebaliknya, demi kemerdekaan hakiki, kemerdekaan positif, "kemerdekaan untuk" (freedom for), suatu kelompok sering merasa berhak menaklukkan kelompok lain dengan merampas kemerdekaan mereka. Banyak orang pun merasa sumpek bahkan teraniaya di negeri sendiri, seperti terpantul dari kisah-kisah asylum di atas. Karena itu, kemerdekaan positif harus selalu dikawal ketat oleh tata hukum yang kuat jika kemerdekaan yang sesungguhnya buat semua orang hendak diwujudkan.

Yang juga tercermin pada kasus asylum itu adalah betapa jika punya pilihan, kehidupan di negeri sendiri kini agaknya demikian tidak menarik bagi sebagian warga kita. Sebabnya jelas: pemerintah kita tidak berdaya dalam mengelola kehidupan sosial dan menjamin hak-hak rakyatnya. Para peminta asylum seumpama layang-layang yang terputus talinya. "Tertolak" di negeri sendiri, entah nasibnya di negeri seberang. Ia bagian dari potret wajah kegagalan negeri kita.

Di situ, alih-alih menjadi perekat, hubungan antar-agama dan etnis kini tampak sebagai guratan luka bangsa yang menganga.

Achmad Munjid
Kandidat Doktor Bidang Religious Studies, Temple University, Philadelphia, Amerika Serikat